Imam Ali as: “Orang jujur berada di ambang pintu keselamatan dan kemuliaan, sementara orang pembohong berada di bibir jurang bencana dan kehinaan.”
Imam Ali as: “Empat sifat yang bila dimiliki seseorang, maka dia telah memiliki kebaikan dunia dan akhirat: (yaitu) kejujuran, menjaga amanat, menjaga perut (dari hal haram), dan akhlak terpuji.”
Imam Shadiq as: “Rasulullah saww bersabda,’Kehidupan orang yang mengambil pelajaran (mu`tabir) di dunia seperti hidupnya orang yang tidur; melihatnya tapi tidak menyentuhnya. Pangkal `ibrah (mengambil pelajaran) adalah menyiapkan diri untuk akhirat dan zuhud di dunia. Ini hanya bisa dilakukan orang-orang yang berhati jernih dan mata hatinya terbuka. Allah berfirman, Maka ambillah pelajaran, wahai para pemilik mata hati, dan, Yang buta bukan mata, tapi hati yang ada dalam dada. Siapa pun yang mata hatinya dibukakan oleh Allah, berarti ia telah mendapat derajat yang tinggi dan agung.’”(Bihar al-Anwar 71/327)
Rasulullah saww: “Allah mencintai orang pemalu, penyabar dan yang menjaga kesucian diri serta menjauh dari hal haram.”
Imam Ali as: “Siapa pun yang meminta bantuan dari akal, maka akal akan membimbingnya.”(Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalam)
Rasulullah saww: “Rasa malu membuahkan kelembutan, kasih sayang, mengingat Allah di tempat tersembunyi dan terbuka, menjauhi kejahatan, keceriaan, toleransi, kesuksesan, dan kedudukan terhormat di tengah manusia. Inilah yang diperoleh orang berakal berkat rasa malu. Maka, beruntunglah orang yang menerima wejangan Allah dan takut terhadap penyingkapan aib oleh-Nya.”
Rasulullah saww: “Siapa pun yang banyak memaafkan, maka umurnya akan dipanjangkan, dan siapa pun yang bersikap adil, maka ia akan ditolong dalam menghadapi musuhnya.”(Bihar al-Anwar 68/420 dan 72/359)
Imam Shadiq as: “Orang yang berbicara jujur, berarti amalnya suci dan murni.”
Imam Ali (AS) berkata, ‘Dia yang mencintaimu akan mencegahmu [dari melakukan dosa].’[Ghurar al-Hikam, no. 7718]
Imam Ali as: “Siapa pun yang mencintai ketinggian derajat di dunia dan akhirat, hendaknya ia membenci kemuliaan yang bersifat duniawi."(Mizan al-Hikmah 2/1008)