| Waspadai Gejala Depresi Pada Awal Kehamilan |
|
| Written by yabasa |
| Wednesday, 03 December 2008 15:42 |
|
Kehamilan merupakan saat yang dinanti-nantikan bagi setiap pasangan suami-istri, namun pada saat awal-awal kehamilan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar janin yang ada dalam kandungan tak mengalami gangguan. Salah satu yang harus diperhatikan selama awal kehamilan adalah depresi. Jangan anggap remeh depresi pada awal kehamilan, karena depresi dapat mengakibatkan kelahiran prematur, hal tersebut diungkap dalam jurnal Oxford University Press, Human Reproduction, beberapa minggu yang lalu. Para peneliti mengadakan wawancara terhadap 791 wanita di wilayah San Fransisco yang pada bulan ke-10 kehamilannya. Dari jumlah tersebut 41 persen diantaranya melaporkan gejala depresi sedang, sementara 22 persen melaporkan gejala depresi akut. Wanita dengan gejala depresi akut dihadapkan dengan risiko hampir dua kali lebih besar melahirkan bayi prematur atau masa kehamilannya kurang dari 32 minggu. Sedangkan mereka yang mengalami depresi sedang memiliki risiko melahirkan prematur hingga 60 persen, demikian yang disebutkan dalam penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Kaiser Permanente Oakland, California. Menurut Dr. De-Kun Li, pakar epidemiologi perinatal dari lembaga tersebut, penemuan yang belum banyak diketahui oleh banyak orang, khususnya wanita hamil membuat hasil penelitian ini menjadi sangat berarti. “Banyak para peneliti yang mengadakan riset mengenai tingginya angka kelahiran bayi di Amerika Serikat, namun mereka belum dapat mengetahui apa yang terjadi. Jika kami dapat menemukan penyebabnya, seperti depresi ini contohnya, itu akan sangat membantu,” ungkapnya. “Sejauh ini, depresi selama kehamilan acapkali diremehkan dan tidak diobati, bukan saja oleh para penderitanya, tetapi juga oleh dokternya,” tambahnya. Salah satu penyebab rendahnya perhatian tersebut, menurut Li adalah masih kurangnya bukti ilmiah mengenai hubungan antara depresi selama hamil dan bahayanya terhadap perkembangan si janin. Selanjutnya Li akan melihat seberapa besar efek obat anti-depresi dalam mencegah kelahiran prematur ini. Menurut Li, depresi pada ibu hamil juga dapat dipengaruhi oleh level yang terdapat di dalam hormon plasenta dan fungsi plasenta itu sendiri “namun selama ini faktor psikologis disebut-sebut sebagai faktor tunggal penyebab depresi,” katanya. Dr. Ryan Saktika Mulyana, M.D dari Rumah Sakit Prima Medika, Denpasar, dalam blog-nya menyebutkan bahwa depresi selama kehamilan merupakan gangguan mood yang sama halnya dengan depresi yang terjadi pada orang awam pada umunya. Dimana pada kejadian depresi akan terjadi perubahan kimiawi pada otak. Dalam hal ini perubahan hormonal pada saat kehamilan akan mempengaruhi kimiawi otak itu sendiri, yang nantinya akan sangat berhubungan erat dengan kejadian depresi dan kecemasan selama kehamilan. Pada sebagaian dari mereka yang mempunyai riwayat depresi, hal ini dapat muncul kembali akibat dipicu oleh kesulitan hidup yang melanda selama kehamilan dan nantinya akan menyebabkan timbulnya gejala depresi selama kehamilan. Menurut dokter lulusan Universitas Udayana ini, depresi yang tidak ditangani akan memiliki dampak yang buruk bagi ibu dan bayi yang dikandungnya, ada 2 hal penting yang mungkin berdampak pada bayi yang dikandungnya, pertama adalah timbulnya gangguan pada janin yang masih di dalam kandungan dan kedua munculnya gangguan kesehatan metal si anak nantinya. Depresi yang dialami jika tidak disadari dan ditangani dengan sebaik-baiknya akan mengalihkan perilaku ibu kepada hal-hal yang negatif seperti minum-minuman keras, merokok dan tidak jarang sampai mencoba untuk bunuh diri. Hal inilah yang akan memicu terjadinya kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan yang rendah dan gangguan perkembangan janin. Ibu yang mengalami depresi ini tidak akan mempunyai keinginan untuk memikirkan perkembangan kandungannya dan kesehatannya sendiri. Jika wanita mengalami depresi selama kehamilan maka hal yang harus dilakukan adalah mencari pertolongan. Ada beberapa cara, antara lain dengan berkonsultasi pada dokter kandungan anda psychologist atau psychiatrist mengenai gejala yang dialami. Saat ini mereka adalah teman yang paling tepat untuk berkonsultasi, mereka juga akan memberikan solusi yang terbaik untuk ibu dan janin yang ada didalam kandungan. Ada beberapa cara dalam melakukan terapi dan konsultasi dengan dokter kandungan anda seperti dengan metode support group atau psikoterapi yang dapat dilakukan secara rutin dan berkala atau mungkin dengan obat–obatan. Jika gejala depresi yang ditunjukkan sangat berat maka dokter kandungan mungkin akan meresepkan beberapa obat untuk mengatasinya dan tentunya aman untuk mereka yang sedang mengandung, jika keberanian tidak ada untuk mendiskusikannya dengan dokter atau terapis mungkin dapat berbicara dan bertukar pendapat dengan teman dekat anda, yang terpenting teman yang anda ajak berbicara sangat bisa mengerti apa yang anda rasakan, jangan pernah untuk melawan depresi ini seorang diri, saat ini anda sangat membutuhkan seseorang untuk mengatasi depresi anda. Tanda-tanda depresi: Sulit berkonsentrasi; Mengalami susah tidur; Merasa lelah; Berubahnya kebiasaan makan; Merasa cemas, gelisah, khawatir; Menjadi sangat sensitif dan mudah emosi. (bambanghari@inspiredkidsmagazine)
|






