| Kepribadian Imam Hassan as |
|
| Written by AliHassan |
| Sunday, 08 February 2009 23:46 |
Kemuliaan dan Kehormatan Imam Hassan as Suatu hari, seorang kakek melalukan wudhu. Cara wudhu kakek tersebut sia-sia dan tidak benar. Imam Hassan as hendak memberitahukan kepadanya kesalahannya tetapi bagaimana? Jika dia berbicara kepadanya kamu salah mungkin kakek itu akan sakit hati dan menghiraukannya dan tidak menyetujuinya. Imam Hassan as bersama dengan Imam Husain as memutuskan untuk membuat sandiwara dan meminta kakek itu untuk membuat keputusan. Imam Hassan as menunjukan Imam Husain as dan berkata “saya melakukanya lebih baik dari yang kamu lakukan.” Mereka berdua mendekati kakek itu dan berkata, “Kamu datang dan liat wudhu kami dan putuskan siapa yang melakukanya dengan benar.” Mereka berdua sibuk melakukan wudhu dan mengakhirinya dengan benar dan cara yang baik. Kakek itu mengetahui sandiwara mereka dan mengeti apa maksud mereka yaitu memberi tahukan kesalahan kakek itu, dengan cara ini. Lalu dia berkata kepada mereka, “ Wudhu yang dilakukan kalian benar, Saya hanya orang tua, yang tidak tahu bagaimana cara wudhu dengan benar. Kamu membuat saya sadar akan kesalahan saya. Saya berterimakasih kepada kamu.” Kealiman dan Kemuliaan Imam Hassan as Imam Hassan as adalah seorang yang saleh, tulus dan khusuk dalam beribadah dan mentaati perintah Allah SWT. Bagaimanapun juga dia pergi ke Mekkah untuk haji, dia melakukanya dengan jalan kaki. Ketika dia melakukan wudhu untuk shalat dia melihat rahmat Allah dan tubuhnya mulai bergetar, dia berkata, “Waktunya telah tiba untuk ku memenuhi panggilannya.” KEtika dia datang ke masjid, dia selalu mengankat kepala dalam tempat shalat, melihat kelangit dan berkata, “ Oh Tuhan ku ini adalah tamu Mu berdiri di rumah Mu. Hamba Mu lalai ini telah datang menghadap mu. Dan harapannya kau mengampuni perbuatan buruknya, dengan rahmat dan pengampunan Mu.” Ketabahan dan Kesadaran Imam Hassan as Suatu hari ketika dia melewati jalan dengan menaiki kudanya. Dalam perjalanannya itu lewat seorang yang merupakan teman “Muawiyah”. Ketikan ia mengetahui itu adalah Imam Hassan, dia mulai berkata dengan tidak sopannya.Imam Hassan as berhenti dan mendengarkannya dan menatapnya seraya berkata, “Saya piker kamu adalah seorang orang asing dan bukan penduduk lokal. Kamu telah dipengaruhi oleh musuh tentang kami dan kesalahan perkataan mereka kepada kami membuat kamu sinis dan pesimis tentang kami. Jika kamu punya keperluan Saya akan penuhi. JIka kamu lapar, saya akan berikan kamu makan. Jika kamu butuh pakaian saya akan berikan kamu pakaian. Jika kamu tidak punya tempat tinggal saya akan ajak kamu kerumah saya. Ketika orang itu mendengar kata-kata Imam Hassan as dia menjadi malu dan menyesal. Dia sangat sedih dan tidak mudah untuk meminta maaf atas apa yang telah dia katakan dan dia berkata, “Perkataan musuh mu telah mempengaruhi saya. Sebelum ini kamu dan ayah-mu adalah musuh terbesar kami diantara semual orang. Tetapi sekarang saya telah menyaksikan kehormatan-mu dan kebaikan-mu kepada saya lebih dari orang yang saya kenal. Saya menjadi sadar kamu adalah keluarga yang mewarisi akhlak Nabi Muhammad saw. Selama saya tinggal saya akan menjadi teman-mu dan pengagum-mu dan akan menjaga hak-mu.” Lalu dia lakukan apa yang telah dia katakan. Kedermawanan dan Kasih Sayang Imam Hassan as
Cerita yang sedikit ini memperlihatkan Imam Hassan as adalah seorang yang bijaksana dan memperhatikan hari pembalasan tiap-tiap orang, dia memperhatikan kesusahan orang-orang, dia Kita seharusnya tahu pertolongan dan bantuan Imam-imam kepada orang-orang merupakan usaha yang tidak mudah dilakukan. Sebagai gantinya, ini merupakan cara untuk meneruskan tugas dan kesempatan untuk mereka.(Tebyan) |








