Rasulullah saww: “Malu ada sepuluh bagian, sembilan bagian berada di kalangan wanita, dan sisanya di kalangan pria.”
Rasulullah saww: “Wahai pembawa al-Quran, cintailah Allah dengan cara menghormati kitab-Nya, niscaya Dia akan menambah cinta kalian dan membuat kalian dicintai makhluk-Nya.”(Jami` al-Akhbar 115/202 dan Bihar al-Anwar 92/19)
Rasulullah saww: “Bila kau melihat tiga sifat dalam diri saudaramu, maka berharaplah (kau memiliki tiga sifat itu): (yaitu) rasa malu, menjaga (dan melaksanakan) amanat, dan kejujuran.”
Rasulullah saww: “Siapa pun yang menolong saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat.”(Al-Mawa`idh al-`Adadiyah 27)
Imam Ali as: “Aku tak pernah meninggalkan shalat malam sama sekali semenjak aku mendengar Rasulullah saww bersabda,’Shalat malam adalah cahaya.’” Ibnu al-Kawwa` berkata,”Di malam Harir sekali pun?” Imam as menjawab,”Bahkan di malam Harir sekali pun.”(Bihar al-Anwar 4/17)
Imam Ali as: “Siapa pun yang pelit dengan hartanya, akan menjadi hina, dan siapa pun yang pelit dengan agamanya (tidak menjualnya dengan dunia), akan menjadi mulia.”(Ghurar al-Hikam)
Imam Ali as: “Orang jujur sampai (pada derajat kemuliaan) dengan kejujurannya, sementara orang pembohong memperoleh (kehinaan) dengan kebohongannya.”
Imam Sajjad as: “Wahai Tuhanku, jadikanlah kami termasuk dari orang-orang yang kebun di dada mereka ditanami pohon kerinduan terhadap-Mu, jiwa mereka tenang karena tahu akan kembali kepada-Mu, dan ruh mereka yakin akan keberuntungan dan kebahagiaan.”(Bihar al-Anwar 150/151 )(Munajat al-`Arifin)
Amirul Mukminin as: “Siapa pun yang bersikap zuhud terhadap dunia; tidak cemas dengan sedikitnya harta, dan tidak bersaing dalam banyaknya harta, maka Allah akan membimbingnya langsung tanpa hidayah dari makhluk, mengajarinya tanpa belajar, dan meneguhkan hikmah di dadanya serta mengalirkannya di lisannya.”(Bihar al-Anwar 78/63)
Imam Shadiq as: “Kesenangan sejati seorang mukmin hanya saat ia bertemu Allah. Di selain itu, ia berada dalam empat kondisi: berdiam diri sehingga kau mengetahui keadaan antara kamu dengan Tuhanmu, menyepi hingga kau selamat dari bencana luar dan dalam, rasa lapar yang mematikan hawa nafsu dan waswas, dan terjaga saat malam untuk menerangi hatimu, membersihkan dirimu, dan mensucikan jiwamu.”(Bihar al-Anwar 72/269)